Tidak ada peran UNHCR, IOM dalam menangani pengungsi Rohingya yang disesalkan: Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Komisariat Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) dan International Organization for Migration (IOM) sangat disayangkan tidak memiliki peran dalam menangani pengungsi Rohingya di Indonesia.

Plt Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM Widodo Ekatjahjana menanggapi penolakan masyarakat terhadap pengungsi Rohingya di Lhokseumawe, Aceh Utara, Provinsi Aceh.

“Akibatnya menimbulkan masalah sosial di Indonesia,” kata Ekatjahjana dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat.

“UNHCR dan IOM memiliki peran dalam menangani pengungsi dari luar negeri. Jangan lari dari tanggung jawab dan hanya mengeluarkan sertifikat pengungsi,” tambahnya.

Dengan diterbitkannya sertifikat, para pengungsi bisa tetap tinggal di Indonesia sesuka hati. Ini berpotensi menjadi masalah sosial di Indonesia, tegasnya.

Widodo menjelaskan, sesuai Peraturan Presiden Nomor 125 Tahun 2016 tentang Perlakuan Terhadap Pengungsi Asing, keimigrasian melalui Rumah Detensi Imigrasi berperan penting dalam pendataan melalui verifikasi dokumen perjalanan, status keimigrasian dan identitas.

Selain itu, petugas Rumah Detensi Imigrasi berkoordinasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Kantor Komisariat Tinggi Urusan Pengungsi di Indonesia.

Dalam menerima pengungsi dari luar negeri, Imigrasi berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota setempat untuk memindahkan atau menampung pengungsi dari tempat ditemukannya ke tempat penampungan.

“Menjamin hak-hak dasar pengungsi di tempat penampungan seperti air bersih, makanan, minuman, pakaian, layanan kesehatan dan ibadah merupakan tanggung jawab UNHCR dan IOM secara keseluruhan,” katanya.

Pada 24 November, Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Lhokseumawe melaporkan bahwa warga menolak kedatangan pengungsi Rohingya yang mencoba mendobrak pintu gerbang dengan mencongkel kunci dan masuk tanpa izin ke bekas kantor imigrasi Lhokseumawe di Puenteut.

Sejauh ini belum ada informasi lebih lanjut mengenai akomodasi etnis Rohingya tersebut.

READ  Tanda-tanda awal pemulihan pariwisata Indonesia

Masyarakat Puentuet masih berjaga-jaga di luar bekas gedung kantor imigrasi menunggu kepulangan kelompok Rohingya.

Berita Terkait: Indonesia menyoroti isu Rohingya pada pertemuan MIKTA
Berita Terkait: Aceh: 119 pengungsi Rohingya direlokasi ke Pekanbaru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.