Program Indonesia membayar nelayan untuk mengumpulkan sampah plastik di laut

Program Indonesia membayar nelayan untuk mengumpulkan sampah plastik di laut

  • Kementerian Perikanan Indonesia telah meluncurkan program empat minggu untuk membayar nelayan untuk mengumpulkan sampah plastik dari laut.
  • Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengurangi polusi plastik laut Indonesia hingga 70% pada tahun 2025.
  • Negara ini merupakan penyumbang utama krisis sampah plastik di lautan.
  • Masing-masing dari 1.721 nelayan yang berpartisipasi akan menerima setara dengan US$10 per minggu untuk mengumpulkan hingga 4 kg (9 pon) sampah plastik dari laut setiap hari.

JAKARTA – Pemerintah Indonesia mencanangkan program yang akan membayar ribuan nelayan tradisional untuk mengumpulkan sampah plastik dari laut. Inisiatif empat minggu ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengurangi sampah plastik laut hingga 70% pada tahun 2025.

Kementerian Kelautan dan Perikanan mengumumkan pada 4 Oktober bahwa mereka telah menjanjikan 1,03 miliar rupiah ($67.600) untuk membayar 1.721 nelayan di seluruh nusantara untuk setiap sampah plastik yang mereka bersihkan antara 1 dan 26 Oktober. Oktober akan dikumpulkan setiap hari. Uang yang berjumlah sekitar 150.000 rupiah (US $ 10) per nelayan per minggu, akan berfungsi sebagai kompensasi karena tidak menangkap ikan selama ini. Itu sedikit lebih dari 140.000 rupiah (US $ 9) seminggu yang diperkirakan kementerian yang mereka peroleh dari memancing.

“Kegiatan ini sangat sederhana,” kata Menteri Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam konferensi pers di Jakarta, seraya menambahkan bahwa hal itu tidak diharapkan menjadi peluru perak untuk masalah sampah laut negara. “Tapi setidaknya itu akan meningkatkan kesadaran di antara para pemangku kepentingan di laut dan orang-orang di seluruh dunia.”

Pari manta berenang di tengah sampah plastik di perairan Indonesia. Gambar milik Elitza Germanov.

Departemen Perikanan mengharapkan setiap nelayan mengumpulkan hingga 4 kilogram sampah plastik setiap hari selama program berlangsung. Peserta berada di seluruh pulau utama Indonesia.

READ  Indonesia memulai pembangunan pembangkit listrik tenaga surya terapung terbesar di kawasan

Indonesia merupakan salah satu penyumbang polusi plastik laut terbesar di dunia. Menurut survei 2017 oleh Kemitraan Aksi Plastik Nasional Indonesia, negara ini menghasilkan sekitar 6,8 juta ton sampah plastik setiap tahun. Hanya 10% dari limbah ini yang diproses di sekitar 1.300 pusat daur ulang di negara itu, sementara jumlah yang hampir sama, sekitar 620.000 ton, berakhir di laut.

Sampah plastik laut menimbulkan bahaya bagi kehidupan laut yang dapat terjerat atau tertelan. Hal ini menyebabkan mati lemas, kelaparan atau tenggelam. Plastik laut telah disalahkan untuk ini Lebih dari 100.000 mamalia laut mati setiap tahun. Jika pembuangan plastik di lautan terus berlanjut pada tingkat saat ini, itu akan melebihi semua biomassa ikan pada tahun 2050 memperkirakan.

“Yang terpenting pencegahan,” kata Sakti. “Jika kita bisa mencegah dengan baik, seharusnya tidak ada sampah di laut. Karena begitu sampah masuk ke laut, sudah rusak.”

Polusi plastik merajalela di pelabuhan Indonesia. Gambar oleh Anton Wisuda/Mongabay Indonesia.

Indonesia berencana untuk menghabiskan $1 miliar pada tahun 2025 untuk mengurangi 70% sampah plastiknya. Masyarakat pesisir, di mana penggunaan plastik jauh melebihi langkah-langkah mitigasi seperti daur ulang, tidak memiliki pengelolaan sampah plastik yang tepat.

Pembersihan pantai adalah salah satu kegiatan populer yang dilakukan di sini. Pemerintah daerah juga menerapkan upaya untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai, termasuk larangan langsung, sementara sektor swasta berinvestasi dalam alternatif yang berkelanjutan. Pemerintah juga berencana untuk membuat produsen lebih bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkan oleh produk mereka.

“Ini adalah pesan moral penting kepada dunia bahwa membuang sampah plastik ke laut sangat buruk,” kata Sakti. “Semoga ini bisa menjadi upaya nasional dan, bahkan lebih baik, aksi global.”

READ  Nelayan mendapatkan insentif untuk mengumpulkan sampah dari perairan Indonesia | Berita | bisnis lingkungan
Sampah plastik di Pantai Kuta, salah satu tujuan wisata utama di pulau Bali Indonesia. Gambar oleh Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia.

Basten Gokkon adalah Staf Penulis Senior untuk Indonesia di Mongabay. Temukan dia di Twitter @bgokkon.

MASUKAN: Gunakan formulir ini untuk mengirim pesan kepada penulis posting ini. Jika Anda ingin memposting komentar publik, Anda dapat melakukannya di bagian bawah halaman.

Konservasi, Perusahaan, Lingkungan, Hukum Lingkungan, Kebijakan Lingkungan, Kebijakan Lingkungan, Ikan, Perikanan, Limbah Makanan, Kelautan, Konservasi Laut, Krisis Laut, Ekosistem Laut, Mikroplastik, Krisis Laut, Lautan, Plastik, Polusi, Keberlanjutan, Limbah, Polusi Air

Untuk menekan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *