Indonesia bertujuan untuk langkah-langkah bersama OKI untuk mengatasi tantangan global

Umat ​​Islam tidak hanya menghadapi tantangan ekonomi dari pandemi, tetapi juga dampak dari konflik di Ukraina.

JAKARTA (ANTARA) – Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi meminta anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) bekerja sama menjawab tantangan global.

Berpidato di pertemuan tahunan OKI, Kamis di sela-sela sidang ke-77 Majelis Umum PBB di New York, Marsudi mengingatkan para menteri luar negeri OKI tentang tantangan kompleks yang dihadapi dunia Islam.

“Umat Islam tidak hanya menghadapi tantangan ekonomi dari pandemi, tetapi juga dampak dari konflik di Ukraina,” katanya, menurut siaran pers Departemen Luar Negeri yang dirilis pada hari Jumat.

Dia mengatakan negara-negara anggota OKI yang terjebak dalam konflik geopolitik hanya akan merugikan kepentingan umat Islam secara keseluruhan.

Untuk berpartisipasi dalam memecahkan tantangan global, ia menyarankan agar OKI mengutamakan semangat perdamaian, percepatan pemulihan ekonomi dan pemberdayaan perempuan di dunia Islam.

Semangat perdamaian menjadi penting sekarang karena banyak konflik di dunia Islam muncul dari persaingan geopolitik. Dalam konteks ini, ia menggarisbawahi perlunya OKI memberikan perhatian khusus pada penyelesaian konflik Palestina.

Dalam pertemuan tersebut, Marsudi juga menyoroti kesulitan yang dihadapi anggota OKI dalam mewujudkan Agenda Pembangunan 2030 dan memulihkan ekonomi mereka dari dampak pandemi.

Dia juga meminta negara-negara anggota OKI untuk menyuarakan keadilan dalam tatanan ekonomi global.

Selain itu, ia menyoroti peran besar yang dimainkan perempuan dalam sejarah peradaban Islam dan menegaskan kembali keyakinan Indonesia bahwa pemberdayaan perempuan sejalan dengan ajaran Islam.

Pertemuan tahunan Menlu OKI dipimpin oleh Menlu Pakistan selaku Ketua Menlu OKI periode 2022-2023.

Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Sekjen OKI dan para menteri luar negeri negara-negara anggota OKI, antara lain Arab Saudi, Palestina, Aljazair, Irak, Senegal, Malaysia, Qatar, Yaman dan Turki.

READ  Indonesia mencari bantuan internasional untuk menemukan kapal selam yang hilang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.