Rencana besar Indonesia untuk memindahkan ibu kotanya

Suara oposisi

Tujuan kementerian adalah untuk mentransfer status ibu kota Jakarta ke Ibu Kota Negara – nama kota dalam Bahasa Indonesia, yang secara harfiah diterjemahkan sebagai ibu kota negara – pada paruh pertama tahun 2024, beberapa bulan sebelum Jokowi akan turun wasiat.

Tapi bisa jadi dua dekade sebelum kota itu siap.

Suharso berusaha meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah akan menyambut baik komentar tentang proyek tersebut.

Dia mengatakan dia bertemu dengan tokoh masyarakat setempat, akademisi dan pejabat pemerintah daerah beberapa bulan yang lalu untuk mendapatkan umpan balik tentang proyek tersebut. Konsepnya, kata dia, membangun pusat pemerintahan di lokasi yang lebih netral, jauh dari pusat kekuasaan tradisional di Jawa, dan ini akan mewakili keragaman masyarakat yang tinggal di kepulauan Indonesia yang luas.

“Yang paling penting untuk dipertimbangkan ketika berbicara tentang ibu kota baru adalah berpusat di Indonesia, bukan berpusat di Kalimantan atau berpusat di Jawa, dalam konteks apa pun. Dari sudut pandang Indonesia, ini merupakan kebanggaan kami dan mencerminkan kekuatan Kalimantan Timur yang heterogen,” kata Suharso dalam keterangan resmi dari kementerian.

Namun kelompok aktivis lokal mempertanyakan pernyataan resmi tersebut, dengan mengatakan bahwa suku Balik merasa dikecualikan dari diskusi proyek.

“Ini sebenarnya bagian dari cerita yang kami kumpulkan,” kata Merah Johansyah, koordinator nasional kelompok aktivis Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), mengacu pada penelitian tentang dampak proyek terhadap masyarakat adat di Penajam Paser Utara dan wilayah sekitarnya.

Sementara itu, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memperdebatkan pro dan kontra dari rencana proyek tersebut.

Anggota parlemen oposisi Mardani Ali Sera mengatakan inisiatif untuk membuka hutan di Kalimantan untuk membangun ibu kota baru dari awal tidak konsisten dengan komitmen global untuk memerangi perubahan iklim.

READ  Sun Cable ditingkatkan dengan bantuan taman surya terbesar di dunia di Indonesia di Darwin

Politisi Partai Keadilan Sejahtera itu mencatat beberapa kekhawatiran.

Diantaranya, di era teknologi digital, tidak perlu pindah modal dan itu buang-buang uang, katanya.

“Orang tidak lagi melihat hal-hal dalam bentuk fisik, mereka lebih mementingkan jaringan. Biayanya sangat besar dan kami khawatir secara teknis dan ekonomi tidak layak,” kata Mardani kepada BeritaBenar.

Selain itu, ada risiko proyek bisa macet atau bermasalah, kata legislator. Dia mencontohkan, pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang didukung China yang awalnya tidak dibiayai negara, akhirnya juga mengandalkan APBN.

“Tidak ada urgensi, itu tidak perlu. Jadi tidak tepat mendorong proyek ini,” kata Mardani.

Arif Wibowo, salah satu legislator yang mendukung proyek tersebut, mengatakan pengesahan undang-undang ibu kota baru diperlukan untuk memberikan status ibu kota kepada pemerintahan di Kalimantan Timur, serta mengharuskan presiden masa depan untuk melanjutkan proyek hingga selesai.

Proposal untuk memindahkan ibu kota dari Jakarta juga telah dibuat oleh presiden sebelumnya, sejak era Suharto dan Sukarno, pemimpin pendiri Indonesia.

“Jadi menurut saya itu ide dan program yang sudah lama dan Presiden Jokowi sekarang melanjutkannya,” kata Arif.

Negara-negara lain yang memindahkan ibu kotanya menemukan bahwa upaya tersebut dapat berhasil melalui manajemen yang hati-hati dan perencanaan yang matang, kata Arif, seraya menambahkan bahwa Jakarta akan tetap menjadi pusat bisnis negara tersebut.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *