Pemindahan ibu kota Indonesia: Sabah untuk mengembangkan komunitas perbatasan untuk mendapatkan keuntungan, kata CM | Malaysia

Perdana Menteri Sabah Datuk Hajiji Noor mengatakan janji ini juga penting untuk memastikan bahwa Sabah dapat memperoleh manfaat penuh dari perkembangan penting yang diharapkan setelah pemindahan ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Kalimantan. – Gambar Bernama

KOTA KINABALU, 16 Des – Pemerintah Sabah berkomitmen untuk memastikan kawasan Kalimantan, Indonesia, dikembangkan untuk memberi manfaat bagi Malaysia dan Indonesia, khususnya di bidang ekonomi.

Perdana Menteri Datuk Hajiji Noor mengatakan komitmen ini juga penting untuk memastikan bahwa Sabah dapat memperoleh manfaat penuh dari perkembangan penting yang diharapkan setelah pemindahan ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Kalimantan.

“Sabah Economic Development and Investment Authority (SEDIA) akan memimpin upaya pengembangan kawasan perbatasan Malaysia-Indonesia di bawah Roadmap Sabah Maju Jaya dan Malaysia Plan ke-12,” katanya.

Dia menambahkan bahwa pemerintah negara bagian akan mengembangkan kota perbatasan di Serudong-Simanggaris di Kalabakan, dengan mempertimbangkan potensi ekonomi yang dapat dibawa oleh langkah tersebut dengan pindah ke Sabah.

Hal itu dikatakannya dalam sambutannya pada acara pembukaan online buku berjudul Pemindahan Ibukota Indonesia ke Kalimantan: Dampaknya terhadap Negara Bagian Sabah (Pemindahan Ibukota Indonesia ke Kalimantan: Dampaknya di Sabah) diselenggarakan hari ini oleh Universiti Malaysia Sabah (UMS).

Hajiji mengatakan dampak ekonomi dan sosial yang positif dari langkah tersebut akan terasa dengan perkembangan kota perbatasan, yang meliputi pembangunan jalan yang menghubungkan Kalabakan ke Simanggaris dan kompleks bea cukai, imigrasi dan karantina untuk pemeriksaan keamanan.

Dia mengatakan pemerintah negara bagian melihat langkah itu sebagai masalah yang membutuhkan tindakan segera di semua tingkatan karena hubungan unik Sabah dengan Kalimantan.

Mengomentari buku tersebut, Hajiji yang juga rektor UMS mengatakan, segala ide dan informasi yang terkandung dalam buku hasil penelitian harus dijadikan pedoman dalam merumuskan kebijakan untuk kepentingan kedua negara.

Sementara itu, Wakil Rektor UMS Profesor Datuk Taufiq Yap Yun Hin mengatakan buku tersebut menyoroti karya ilmiah yang meneliti efek perpindahan 31 ilmuwan Malaysia dan Indonesia. – Bernama

READ  Silence Schwartzman, Rafael Nadal Lolos ke Final Prancis Terbuka 2020: Okezone Sports

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *