Para ahli mengungkapkan bahwa faktor pemblokiran Covid-19 akan diterapkan kembali

Jakarta, CNN Indonesia –

Ahli epidemiologi Griffith University, Dicky Budiman, menyatakan pandemi Covid-19 tidak menurun secara global atau regional. Ia mengatakan setiap negara berpotensi untuk menerapkannya kembali Jam malam untuk mencegah penyebaran Covid-19 menyebar lebih jauh.

“Situasi pandemi belum mereda secara global, regional dan nasional. Kalaupun angkanya nampaknya menurun di Indonesia,” kata Dicky. CNNIndonesia.comSenin (2/11).

Dicky mengatakan jumlah kasus di dunia, khususnya di Indonesia masih tinggi. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan angka kepositifan dan mortalitas, serta penurunan tes dan tindak lanjut.




Dia melihat tes di Indonesia tidak memadai dan memenuhi standar eskalasi pandemi. Menurutnya, dari seluruh daerah di Indonesia hanya DKI Jakarta yang mendekati standar.

Selain itu, Dicky menilai situasi saat ini dengan pandemi Covid-19 sudah kritis. Berdasarkan data, jumlah kasus mencapai 2 juta per minggu.

“Ini belum terjadi sejak Januari hingga sekarang. Hanya terjadi dua juta dalam seminggu. Padahal, pekan lalu 500.000 kasus sehari per hari,” ujarnya.

Kerumunan, kata dia, juga berpotensi lebih banyak. Karena banyak negara tidak valid dalam melaporkan tes, jejak dan kematian.

“Jadi apa yang terjadi di negara-negara Barat menjadi pelajaran yang sangat penting dan menjadi sinyal bagi Indonesia,” kata Dicky.

Dicky percaya bahwa negara yang telah mengalami lonjakan dalam kasus-kasus tertentu dan berada di bawah ancaman penguncian telah mengabaikan pengujian dan kemunduran. Akibatnya, negara tersebut menerapkan relaksasi yang diusulkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia tanpa kriteria ideal.

Atas rekomendasi WHO, negara dapat melakukan ini jika angka positif maksimum adalah 5 persen dan tidak ada kematian. Selain itu, case hanya terdiri dari satu digit dan bertahan sebulan.

READ  Dying Light 2 membutuhkan setidaknya 500 jam untuk menjadi "lengkap"

“Ini diabaikan,” katanya.

Di sisi lain, Dicky mengaku belum yakin dengan perkiraan WHO bahwa 10 persen populasi dunia telah terpapar Covid-19. Tidak hanya ambisius, ia juga melihat potensi kurang dari 5 persen di beberapa negara, misalnya di Indonesia.

Artinya mayoritas penduduk memiliki kekebalan yang masih jauh. Artinya virus ini akan terus berkembang. Prediksi global dan di Indonesia, setidaknya hingga akhir tahun depan masih menghadapi situasi yang serius. “kata Dicky.

Situasi serius ini juga akan muncul dengan ada atau tidak adanya vaksin. Pasalnya, ia merasa vaksin tidak akan berperan optimal dalam mengatasi pandemi jika pengujian dan penelusuran masih rendah.

Larangan Hindari larangan

Dicky menjelaskan bahwa ada tiga cara untuk menghindari pelarangan atau pembatasan sosial utama. Awalnya, dia menyarankan pemerintah melakukan tes besar-besaran untuk mendapatkan angka positif 1 hingga 3 persen.

Kedua, lakukan penelusuran cepat dan tepat hingga lebih dari 80 persen kasus kontak terlacak.

Ketiga, isolasi kasus yang bergejala positif dan karantina yang tidak memiliki gejala, kata Dicky.

Dicky menambahkan, sebagian besar penyebab munculnya gelombang kedua adalah pengujian ekstensif yang dilakukan terlalu lambat dengan hasil yang panjang. Selain itu, pelacakan kontak tidak cukup, sehingga pelacakan tidak lengkap.

“Kurangnya penegakan hukum dan dukungan keuangan untuk mendorong isolasi dan karantina berhasil,” katanya.

(jps / DAL)

[Gambas:Video CNN]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.