Laban tidak mengejar penemuan meteorit di Sumatera Utara, maka: Okason Techno

Belakangan ini penonton bikin heboh meteor Itu jatuh ke rumah Joshua Hudakalung, pembuat peti mati di Kolang, Sumatera Utara. Kerumunan mengatakan meteorit itu dijual dengan harga yang luar biasa.

Fragmen meteorit yang jatuh di bagian tengah Sumatera Utara menjadi perbincangan. Ini karena penemunya menjual batu itu dari Amerika Serikat kepada seorang kolektor seharga $ 200 juta.

Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (LABAN) akhirnya mengklarifikasi status kepemilikan meteorit tersebut. Ini karena banyak orang yang dikejutkan dengan pendekatan pasif kekuasaan nasional.

LAPAN menjelaskan, meteorit biasanya milik siapa saja yang menemukannya. Jika tidak ada nilai ilmiah atau keamanan, LAPAN harus diikuti.

Meteorit yang jatuh di wilayah Tabanuli Sumatera Utara sebagian besar serupa, kata Laban di situs resminya, Jumat (20 November 2020).

Meteor bukanlah benda berbahaya. Dari segi ukuran, meteorit yang jatuh di wilayah Tapanuli bukanlah sesuatu yang istimewa. Karenanya, Laban tidak mengejar temuan tersebut.

Baca Juga: 10 Meteorit Termahal Di Dunia Dengan Nilai Rendah 4,6 Miliar Rupee.

Delapan menyatakan bahwa terkait dengan penegakan hukum, barang yang jatuh ke luar angkasa diatur oleh Pasal 58 dan 59 UU Kewajaran No. 21 dari 2013.

Dalam Pasal 58 terdapat dua jenis benda yang jatuh ke luar angkasa, yaitu benda alam (meteorit) dan benda buatan (puing antariksa).

Benda jatuh masuk ke atmosfer bumi dari luar angkasa pada ketinggian kurang dari 120 km. Beberapa terbakar karena gesekan di atmosfer sementara yang lain mencapai permukaan bumi.

Awalnya, hanya benda alam seperti meteorit yang jatuh ke luar angkasa. Namun, sejak peluncuran roket, benda langit yang jatuh kemungkinan besar dibuat oleh tangan manusia. Benda buatan manusia yang jatuh ke bumi adalah puing ruang angkasa karena sudah tidak berfungsi lagi.

READ  Empat astronot dengan SpaceX tiba di stasiun luar angkasa

Sedangkan meteorit adalah batuan luar angkasa yang terbentuk dari batuan di tata surya yang mengandung asteroid, komet, atau batuan surya lainnya. Meteorit biasa jatuh di suatu tempat di bumi.

Meteor umumnya tidak berbahaya kecuali saat jatuh ke Bumi, tetapi kecil kemungkinannya untuk menyerang manusia. Sementara itu, puing-puing ruang angkasa membawa bahaya seperti residu bahan bakar beracun atau muatan nuklir dari isinya.

Asteroid tidak terpantau oleh LAPAN karena orbitnya tidak dapat diprediksi. Tidak seperti meteorit, puing-puing luar angkasa dilacak oleh LAPAN karena jalurnya dapat diprediksi.

Menurut Pasal 59 Undang-Undang Nomor 21 tentang Luar Angkasa, LAPAN wajib mengidentifikasi benda yang jatuh ke luar angkasa. Hal tersebut dilakukan di Tapanuli dengan klaim bahwa benda yang jatuh tergolong benda alam atau meteorit.

“Itu tidak berbahaya dan Laban tidak mengejarnya karena kurangnya minat ilmiah.” Meteorit itu bisa jadi milik penemunya, “kata Laban.

Laban mengklaim meteorit yang jatuh di wilayah Tapanuli tidak terlalu besar.

Written By
More from Said Rafiq

Dengan Rp 70 juta di rumah lelang, dapatkan Kijang Innova atau Harrier bekas di semua situs

JAKARTA, KOMPAS.com – Sumber daya yang terbatas terkadang membuat calon pembeli mobil...
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *