Komentar: Indonesia bermasalah dengan pesantren pro-Jamaah Islamiyah

SINGAPURA: Awal tahun ini, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengumumkan bahwa 68 pesantren, yang dikenal secara lokal sebagai “pesantren”, berafiliasi dengan Jemaah Islamiyah (JI). Akankah pesantren pro-JI ini mengadvokasi versi Islam yang mengancam keamanan dan kohesi sosial Indonesia?

Masalah radikalisasi di kalangan pesantren pro-JI tampaknya sedang terjadi di Indonesia. Namun, dalam geopolitik kawasan yang kompleks, di mana keterikatan lintas batas sering terjadi, perubahan kecil di satu tempat dapat berdampak di tempat lain.

Pendiri JI Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir mendirikan Pesantren JI di Ulu Tiram, Johor Bahru, Malaysia. Sejak ditemukan 20 tahun lalu, pemerintah daerah telah bertindak untuk menetralisirnya. Namun, JI adalah organisasi yang tangguh.

Pesantren sangat dijunjung tinggi

Wawancara penjara baru-baru ini yang saya lakukan dengan salah satu pejuang asing JI yang kembali menunjukkan bahwa JI menggunakan jaringan pesantrennya secara sistematis, khususnya di Jawa Tengah, untuk mendidik kader muda JI tentang “magang jihad” di salah satu kelompok pemberontak, Jabbah An, untuk membangun hingga Nusra (JN), di Suriah dan Irak.

Namun, mengakui pesantren sebagai pro-JI bukanlah tugas yang mudah. Untuk satu hal, pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia dan ada di mana-mana, dihormati dan dipromosikan secara luas untuk layanan publik mereka.

Pesantren sudah ada sejak awal penyebaran Islam di Indonesia. Kementerian Agama memperkirakan ada hampir 30.000 pesantren di seluruh Indonesia.

Mayoritas dari mereka adalah arus utama dan persuasi moderat. Alumni pesantren ini adalah pendukung setia proyek pembangunan bangsa, seperti Abdurrahman Wahid, yang menjadi presiden setelah Suharto digulingkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.