Ikon pluralisme Indonesia Ahmad Syafii Maarif meninggal di usia 86 tahun

Yerica Lai (The Jakarta Post)

BONUS

Jakarta ●
Jum, 27 Mei 2022

Ahmad Syafii Maarif, ikon pluralisme dan kekuatan intelektual bagi generasi Muslim progresif di negara demokrasi mayoritas Muslim terbesar di dunia, meninggal pada hari Jumat di Rumah Sakit Muhammadiyah di Sleman, Yogyakarta, hanya empat hari sebelum ulang tahunnya yang ke-87.

Dikenal sebagai Buya, ia termasuk generasi pertama Muslim “neomodernis” yang, bersama dengan tokoh Muslim terkemuka lainnya seperti Nurcholis “Cak Nur” Majid dan Abdurrahman “Gus Dur” Wahid, membantu membentuk jalan Islam dan demokrasi di Indonesia. , yang meninggal pada tahun 2005 dan 2009, masing-masing.

Kematiannya, yang terjadi pada saat negara dengan budaya yang beragam itu bergulat dengan kebangkitan politik identitas yang mendorong dan mengobarkan ekstremisme agama, telah menciptakan kekosongan dalam wacana publik baik bagi Muslim maupun non-Muslim.

“Saya merasa kehilangan yang besar. Bagi saya dia adalah karakter yang sangat mendukung. Dia juga sahabat saya,” kata sarjana Katolik dan imam Yesuit Franz Magnis-Suseno The Jakarta Post dalam sebuah opini.

“Saya melihat dia sebagai seorang Muslim yang membuat Islam dimengerti oleh saya, seorang Muslim yang terbuka untuk orang lain, yang menunjukkan bahwa rasa religiusitas yang mendalam dapat berjalan seiring dengan rasa nasionalisme yang mendalam.

“Dia adalah orang yang sangat senang menjadi orang Indonesia dan orang yang sangat terbuka tentang hal itu [his] Saudara dan saudari dari agama lain,” kata ilmuwan sosial itu.

“Dalam dirinya kita melihat bagaimana seseorang bisa 100% berakar pada agamanya tetapi terbuka untuk semua orang. Dan tentu saja kematiannya di usia 86 tahun telah membuat kehampaan di Indonesia,” kata Magnis-Suseno.

Atau biarkan Google mengelola langganan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.