Gereja-gereja di Indonesia memperingatkan bencana yang akan datang di Danau Toba

Kerusakan lingkungan telah mengancam orang-orang di danau terbesar di Indonesia dari bencana alam, kata Katolik dan gereja Kristen lainnya memperingatkan.

Deforestasi di sekitar Danau Toba di Sumatera telah menyebabkan lebih sering terjadi banjir dan membahayakan nyawa masyarakat melalui tanah longsor dan banjir.

Dengan panjang sekitar 100 kilometer dan lebar 30 kilometer, Toba merupakan danau terluas di Indonesia dan danau vulkanik terbesar di dunia.

Berlangganan buletin gratis harian Anda dari UCA News

Terimakasih banyak. Anda sekarang terdaftar untuk buletin harian

Itu juga merupakan daya tarik wisata utama dan lokasi letusan gunung berapi super yang terjadi sekitar 75.000 tahun yang lalu.

Namun, risiko terbesar bagi kehidupan bukanlah wabah, melainkan banjir yang kini terjadi setiap tahun akibat penggundulan hutan massal di sekitar danau, menurut Pastor Hilarius Kemit, Direktur Kapusin untuk Keadilan, Kedamaian dan Keutuhan Ciptaan di Sumatera.

“Masyarakat lokal sering disalahkan karena telah memberi jalan kepada hutan, tetapi pemerintah harus mengambil sebagian tanggung jawab karena gagal menegakkan peraturan untuk melindungi lingkungan dan hutan,” katanya kepada UCA News.

Pemerintah harus memperketat undang-undang tentang pembalakan liar dan mencegah pembukaan lebih lanjut

Penebangan liar juga meluas di wilayah tersebut, katanya, mendesak orang-orang “untuk mengambil sikap dan melawan sebelum menjadi korban”.

Jika mereka dan pemerintah lokal dan nasional gagal bertindak secara tegas, bencana besar akan terjadi, dia memperingatkan.

Pastor Kemit merujuk pada ensiklik Paus Fransiskus tentang lingkungan. Terpujidan mengatakan pesan yang terkandung di dalamnya tidak hanya untuk umat Katolik tetapi untuk semua orang.

Gereja Kristen lainnya mengulangi peringatan pendeta Katolik itu.

Gereja Batak Protestan Indonesia mengimbau semua lapisan masyarakat untuk membalikkan kerusakan lingkungan di sekitar danau.

“Pemerintah harus memperketat undang-undang tentang pembalakan liar dan mencegah pembukaan lebih lanjut,” kata Pendeta Robinson Butarbutar, ketua Gereja Batak Protestan Indonesia, dalam pernyataan 16 Mei.

Meskipun pihak berwenang telah berhasil menjadikan kawasan tersebut sebagai daya tarik wisata utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat, lingkungan seharusnya tidak menderita karena akan berdampak buruk bagi masyarakat setempat.

“Kami berkomitmen untuk bermitra dengan pemerintah untuk melindungi lingkungan dan hutan,” kata Pendeta Butarbutar kepada UCA News.

READ  Samsung Galaxy S21 Ultra memiliki baterai 5000 mAh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *