Cendekiawan Muslim progresif untuk memimpin Nahdlatul Ulama Indonesia yang berpengaruh. terpilih

SINGAPURA – Seorang cendekiawan Islam terhormat yang dipuji sebagai “simbol generasi baru” telah terpilih sebagai ketua Nahdlatul Ulama (NU), kelompok Muslim berpengaruh di Indonesia dan organisasi Islam terbesar di dunia.

Yahya Cholil Staquf, 55, mengalahkan ketua dua tahun petahana Said Aqil Siradj dan tiga kandidat lainnya dalam perlombaan yang sangat kompetitif di Musyawarah Nasional NU pada hari Jumat (24 Desember).

Almarhum ayahnya, Cholil Bisri, ikut mendirikan partai Islam terbesar di Indonesia, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan adiknya adalah Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas.

“Tidak hanya lebih muda (dari Pak Said), pemikirannya juga lebih maju. Anggota NU bosan dengan pemerintahan saat ini dan ingin melihat perubahan,” kata Muh Taufiqurrohman, peneliti senior di Pusat Studi Radikalisme dan Deradikalisasi Jakarta, kepada The Straits Times.

“Fokus Pak Yahya untuk pemberdayaan warga NU dan kesejahteraan, sedangkan Pak Said fokus melibatkan NU dalam politik nasional,” ujarnya.

Terpilihnya Yahya menimbulkan pertanyaan apakah organisasi yang beranggotakan lebih dari 90 juta pendukung itu akan terus berlabuh dalam urusan dalam negeri dan memengaruhi urusan luar negeri.

Lagi pula, dia tidak asing dengan pemerintahan. Sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden 2018, ia memberi nasihat kepada kepala negara Indonesia Joko Widodo tentang masalah agama, nasional, dan internasional.

Said, pendahulunya yang berusia 68 tahun, dipandang sebagai kunci untuk membawa NU lebih dekat ke politik.

Kecuali pada tahun 1999, ketika mantan Ketua NU Abdurrahman Wahid menjadi Presiden Indonesia, para pemimpin NU umumnya tidak memainkan peran penting dalam politik selama dua dekade terakhir. Namun pada tahun 2019 Presiden Widodo memilih mantan pemimpin NU Ma’ruf Amin sebagai runner-up dalam pemilihan, yang tidak hanya memastikan kemenangannya tetapi juga menandai kembalinya NU ke politik yang serius.

READ  Kreditur memilih penyelesaian utang Garuda Indonesia senilai $9,7 miliar

PKB, kendaraan politik NU, saat ini memiliki 58 kursi di DPR yang beranggotakan 575 orang dan memiliki empat menteri.

Tapi NU selalu mendukung pemerintah di masa lalu, kata Taufiqurrohman.

“NU tidak punya pilihan. Harus politis jika ingin membuat perubahan besar di Indonesia karena perubahan itu sebagian besar bisa melalui politik,” tambahnya.

Dalam konteks keterlibatan global, para analis menemukan bahwa Yahya secara politis condong ke Amerika Serikat, sementara Said dikenal bersahabat dengan China.

Bapak Yahya ikut mendirikan organisasi Bayt ar-Rahmah yang berbasis di AS, yang bertujuan untuk memperluas operasi NU di Amerika Utara, Eropa dan Timur Tengah.

Pada tahun 2018, ia mendapat reaksi keras di rumah ketika ia menghadiri Forum Global Israel yang diundang oleh Komite Yahudi Amerika. Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Israel dan telah lama menentang pendudukan wilayah Palestina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.