Air Berputar: Apa Penyebab Munculnya Busa Misterius di Kanal Jakarta? | Indonesia

Selimut busa tebal seperti salju menutupi permukaan kanal di ibu kota Indonesia, Jakarta. Dalam beberapa tahun terakhir, busa telah berulang kali muncul dari air Banjir Kanal Timur di Marunda, terutama di musim hujan.

Polusi serupa telah melanda perairan di India, termasuk Sungai Yamuna yang suci di Delhi, yang telah dilapisi dengan busa beracun dari limbah, bahan kimia, dan polutan yang tidak diolah.

Sebuah keluarga melihat-lihat polusi di jembatan kunci Marunda di Jakarta. Foto: Aslam Iqbal / SOPA Images / REX / Shutterstock

Di Jakarta, limbah cair, termasuk deterjen cucian dari rumah tangga dan pabrik-pabrik di sekitarnya, disalahkan.

Penyebab pasti dari busa baru-baru ini di Marunda tidak jelas, kata Muharram Atha Rasyadi, aktivis perkotaan Greenpeace Indonesia, meskipun kontributor paling umum pencemaran sungai di Jakarta adalah rumah tangga dan sampah.

Busa menelan tanaman air.
Busa menelan tanaman air. Foto: Aslam Iqbal / SOPA Images / REX / Shutterstock

“Saat musim hujan, pencemaran sungai dari sampah seperti sampah plastik biasanya meningkat karena hulu sungai lebih tinggi,” katanya.

“Kami membutuhkan pengolahan air limbah yang lebih banyak dan memadai di kota. Kami juga membutuhkan kebijakan yang lebih kuat dan implementasinya untuk menjatuhkan sanksi bagi yang membuang sampah sembarangan.”

Pemerintah sebelumnya menggunakan jaring untuk menangkap sampah agar tidak tumpah ke laut dan mengerahkan tim untuk mengumpulkan barang-barang dari permukaan. Namun, pencemaran sungai Jakarta diperparah dengan melonjaknya limbah medis seperti masker sekali pakai.

Sebuah studi baru-baru ini menemukan 5% lebih banyak puing ditemukan di dua muara, sungai Cilincing dan Marunda, dibandingkan tahun 2016, sebagian karena lonjakan peralatan medis pelindung seperti masker, sarung tangan, dan pakaian pelindung baru-baru ini.

Tumpukan sampah di sekitar pantai Marunda.
Tumpukan sampah di sekitar pantai Marunda. Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko / REX / Shutterstock

Jakarta, salah satu kota terpadat di dunia dengan lebih dari 10 juta orang, berjuang dengan polusi udara yang parah, jalan yang macet, banjir dan penurunan tanah 1-15 cm per tahun. Kota ini baru-baru ini bernama kota paling ramah lingkungan di dunia dari perusahaan riset Verisk Maplecroft karena kualitas udara yang buruk dan risiko gempa bumi.

Presiden Joko Widodo telah mengusulkan pemindahan ibu kota dari pulau utama Indonesia Jawa ke Kalimantan Timur di pulau Kalimantan. Aktivis telah menyuarakan keprihatinan tentang rencana tersebut, memperingatkan bahwa krisis lingkungan yang sama hanya akan muncul kembali kecuali jika pemerintah mengadvokasi perencanaan kota hijau.

READ  Enam juta dosis vaksin massal Sinovac tiba di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *