Andai “Bulukumba” tanpa ketua DPRD!

Ilustrasi

Ilustrasi

“Kebenaran adalah semacam kekeliruan, yang tanpanya manusia tidak dapat hidup. Premis pengantar untuk membawa akal sehat sebagai pemimpin harapan kita”.

Klikbulukumba.com,BULUKUMBA— Bayangkan jika Bulukumba tanpa ketua Dewan Perwakilan Rakyat. Ia bukan hanya kehilangan pimpinan representasi perwakilan suara mayoritas, tapi bisa juga arah. Tak hanya tata kelola seperti aktivitas pengawasan, budgeting yang akan gaduh, tapi tidak ada politisi yang tidak berpotensi untuk selalu berusaha tampil untuk memimpin. Manusiawi, sebab tak satupun mahluk bumi yang tidak memiliki naluri memimpin. Obsesi yang ada sejak lama dan mendiami siapa pun yang bernama manusia. Mereka selalu ingin berkuasa dan mengendalikan yang berada di luar dirinya.

Hal lain, saya menemukan sisi keuntungan yang kita dapatkan kalau tanpa adanya ketua DPRD? Suara – suara harapan yang kita perwakilan kepada wakil rakyat, tidak lagi dipaksa untuk mengatur sesuatu diluar keinginan diri – sendiri. Masing-masing dari mereka dituntut untuk mengatur perporma interaksi dirinya dalam mempertengkarkan hak warga yang diwakilinya. serta akan makin terlihat mengelola hubungan dengan yang lain dan bagaimana mengkompromikan silang kepentingan bersama yang lain. Bayangkan situasi tersebut, dan pikirkan satu hal tentang ambisi setiap orang yang semakin mudah menemui jalan kenyataan dari wakil rakyat. Sebab, harapan setiap warga dipandu bukan oleh aturan dalam arti wakil rakyat yang mewakilkan negosiasi, harapan dan setiap janjinya pada tanda tangan satu orang. (logika akal tidak sehat) pada situasi tersebut akan menggerogoti akal sehat kita untuk mengkonfirmasi, logis mana Bulukumba tanpa Ketua DPRD atau menjadi tidak logis dan tidak masuk akal “gagasan imajiner ” Tanpa ketua DPRD.

Setiap orang ter anugrahi potensi untuk bertindak diktator dan merasa pintar sendiri sampai lupa diri batasan sadar kemampuannya. Saya dan warga masyarakat, dulu saat pemilu memilih karena merasa paling tahu apa yang diinginkannya dan pada siapa ia jatuhkan suara perwakilannya, sampai membunuh kebenaran dari siapa saja yang menurutnya berbeda selera memilih perwakilan di DPRD. Betapa tidak menyenangkan aktivitas janji pemilu kita yang harus menunggu wakil rakyat kita antri untuk melobi restu dan tanda paraf satu orang. Sementara mereka semua secara pribadi diberi kesempatan sebagai perwakilan suara mayoritas dengan mandat yang sama. Bayangkan, bagaimana kacaunya jika faktanya masih harus menunggu wakil rakyatnya melobi sesamanya wakil rakyat dengan tugas dan fungsi yang sama. Ini fakta dan naluri imajiner yang memang rumit.

Membayangkan Anggota DPRD dan Ketua DPRD saling mengakali.

Kalau tidak ada DPRD sebagai wakil rakyat, kita tak akan menyerahkan hak berharap kita kepada yang wakil rakyat. ” Lalu, apakah masuk akal, jika wakil rakyat yang kita pilih tak bisa seenaknya memainkan insting akal perwakilannya sebagai anggota DPRD, sebab harus melewati cara ber akal ketua DPRD yang memiliki kepentingan yang sama dengan wakil kita”. Tampil sebagai yang paling amanah dalam janji pemilu di hadapan konstituen nya. Dipastikan lalu lintas masuk akal dalam memaksimalkan kerja – kerja wakil rakyat ada dalam situasi berhubungan dengan cara seperlunya, artinya jika bersinggungan dan atau cenderung merugikan ambisi pribadi ketua cukup menjadi alasan bagi saya untuk mula memikirkan gagasan imajiner ini sebagai sebuah konsensus.

Pernahkah anda membayangkan untuk sebuah meja staf di DPRD itu seharga 2.500.000,-00 Atau untuk satu buah sofa di ruangan ketua DPRD seharga 10.500.000 rupiah, sementara untuk 2 sofa diruangan wakil itu dinilai 13.000.000,-00, . Bagaimana dengan 51 unit meja rapat paripurna bernilai 219.000.000,-00. Harga ini masuk akal atau ini adalah nilai yang diakal – akali. Lihat saja pertumbuhan janji pemilu anggota DPRD hari ini. Anggota DPRD bicara dengan bebas dan berpendapat dengan cara leluasa. Apa saja bisa prestasi yang pantas dikomentari dari apa pun yang pernah menjadi komitmen janji mereka yang dapat ditanggapi. Jawaban terdekat dan paling mendekati logis adalah ” Untuk gedung tempat mereka nyaman ber aktifitas sehat dengan akal sehat perwakilan rakyat saja, terlunta – lunta dari kepastian waktu kapan dirinya difungsikan. Sementara sudah diresmikan setahun yang lalu. Ada apa? dan selain berinisiatif, hal dasar apa yang tidak ada pada diri ketua DPRD kita”.

Logis dan apa pertanyaan itu masuk akal. Bayangkan, jika status gedung baru tak fungsi, Inisiatif Ketua DPRD, dan Ilustustrasi dari harga satuan sofa, meja staf dan meja paripurna dalam situasi yang saling mengakali. Dan Potensi yang paling berbahaya dari tawaran imajiner ” Andai Bulukumba tanpa ketua DPRD?. Dengan muda setiap orang mampu menemukan jawabannya. Cara mengatasi pilihan paling masuk akal dengan mudah dan sederhana: adalah menempatkan jawaban yang bohong untuk segera mungkin dihapus dari aktivitas akal kita, sedangkan yang benar secepatnya dilipatgandakan dalam bentuk pesan.

Jika Bulukumba tanpa Ketua DPRD, itu nyata dan benar – benar terbukti, maka tiap anggota DPRD secara naluriah bertanggung jawab pada janji dan amanah yang ada di pundak nya. Karena tak harus menyerahkan semua kebutuhan dan kepentingan konstituennya pada orang yang status dan tanggung jawab konstitusional yang sama dan statusnya sama – sama dipertaruhkan lima tahun sekali untuk kembali dipilih. Sulit untuk menghadapi kenyataannya, apalagi untuk tahu masalah konkrit yang kita hadapi. Karena secara otomatis, berkaitan dengan hubungan serta lingkungan wakil rakyat yang akan menunjuk siapa yang bersedia mengatur kita yang 40 orang ini.
Yang pasti kita merindukan Individu wakil rakyat yang tak diikat oleh kesatuan dari perangkat pertengkaran akal di ruang paripurna atau Inisiatif, selebrasi penetrasi yang menawan dari ketua DPRD kerena ketundukannya pada apa yang dinamakan dengan pimpinan di Badan Terhormat. Selamat datang di kehidupan terhormat wakil rakyat yang bertindak bebas, mandiri, dan merdeka serta bermatabat.

Tapi mungkinkah itu semua terjadi? Jangan bayangkan itu jawaban datang seketika. Kita akan memperoleh jawaban itu kalau kita mulai berani mengandaikan kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan hidup memikul janji wakil rakyat tanpa terikat oleh disposisi dari ketua DPRD , dan oleh seperangkat aturan yang sekarang ini musti mereka patuhi. Anda dan Saya bisa mempersiapkan gagasan imajiner ini dengan percaya bahwa jalan ini mungkin adalah jalan hidup baru yang lebih menantang. Dan kami memilih itu sebagai antitesa dari situasi saat ini.

Penulis : Syamsul Bahri Majjaga

Advertise

Leave a Reply