RDP di DPRD, Manajemen PDAM Dinilai Lemah

BULUKUMBA–Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bulukumba menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) di ruang Komisi B terkait kisruh krisis air di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Jumat (07/02/2020).

Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bulukumba, H Nur, mengatakan sementara ini PDAM Bulukumba dalam keadaan baik-baik saja.

“Saat ini PDAM Bulukumba dalam keadaan sakit,” ucap H Nur kepada anggota Komisi B DPRD Bulukumba.

Ia mengaku kekurangan orang-orang yang lebih visioner. Menurutnya, perusahaan dibawah naungannya tersebut dibutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang paham dibidang masing-masing.

“Hambatan kami di PDAM itu karena SDM. Pegawai saat ini hanya rata-rata tingkat pendidikanya standar dan berdasar dengan pengalaman,” katanya.

Oleh karena itu pihaknya juga sangat membutuhkan pegawai teknis yang mampu menguasai satu bidang. Misalnya dalam penguasaan IT, agar kerja PDAM lebih terarah.

Ketua Komisi B, Fahidin HDK memberikan solusi persoalan yang terjadi di PDAM Bulukumba, khususnya kegaduhan di Kecamatan Bontobahari.

Komisi B melihatnya ini masalah genset. Ia menyarankan agar Dinas Tata Ruang segera melakukan lelang pengadaan genset.

Secara kesuluruhan kata Fahidin, di PDAM memiliki masalah kepemimpinan leadership yang lemah dan juga manajemennya, baik dari segi administrasi maupun pengelolaan keuangannya.

“Dan juga SDM yang rendah karena gaji pegawai disana (PDAM) ada yang 150 perbulan serta dukungan Pemda yang belum maksimal,” ungkap Ketua PKB Bulukumba itu, Sabtu (08/02/2020).

Ia menilai upah yang diberikan ke pegawai dengan nominal seperti itu untuk perusahaan daerah tidak tepat. Sebab seharusnya gaji pegawai disesuaikan dengan UMR.

“Karena itu kita merekomendasikan kepada pimpinan melalui Dewas PDAM agar memperhatikan hal-hal seperti ini dalam rangka mendorong SDM dan keterampilannya,” kata dia menyarankan.

Salah satu problem yang perlu dipenahi untuk lebih mudah mendeteksi lanjut Fahidin, mekanisme pemungutan iuran harus melalui sistem online, bukan lagi dengan cara manual.

“Sekarang hampir seluruh meteran kita itu rusak di Bulukumba. Ada yang baik, tidak ada airnya, ada yang punya air, tapi bocor. Bahkan ada juga yang hilang meterannya,” tutupnya.

Advertise

Leave a Reply