Sejarah Bulukumba Yang Pernah Dihantam Tsunami Setinggi 25 Meter

Bulukumba, KlikBulukumba.com – Dalam sejarah, Kabupaten Bulukumba pernah diguncang gempa yang mengakibatkan tsunami besar pada tahun 1821 silam.

Menurut Imanuela Indah Pertiwi, peneliti dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah IV Makassar; M. Hattah Fattah dan Abdul Rauf, keduanya peneliti dari Universitas Muslim Indonesia, Makassar; secara geografis sebelah selatan Provinsi Sulawesi Selatan berbatasan langsung dengan Laut Flores yang memiliki sesar aktif yang memanjang dari pantai utara Lombok hingga sebelah timur laut Bali. Sesar aktif ini dikenal sebagai Back Arc Thrust (sesar naik belakang busur kepulauan).

Aktivitas sesar aktif tersebut yang menyebabkan banyak terjadi gempa bumi di utara kepulauan Sumbawa hingga Flores. Seperti pada 29 Desember 1820, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,5 dengan pusat di Laut Flores mengguncang Sumbawa dan Sulawesi.

Seperti yang disadur dari laman Historia.id , Menurut para peneliti tsunami tersebut terjadi di beberapa lokasi, membentang dari Sumenep ke beberapa daerah di sepanjang pantai selatan Sulawesi. Di Bima, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, gempa berlangsung lebih dari dua menit, diikuti tsunami yang mengempaskan kapal yang berlabuh di teluk ke pedalaman, rumah dan pohon-pohon tumbang, dan banyak struktur batu runtuh. Setelah gelombang tsunami, lumpur menutupi tanah dan rumah, serta beberapa orang tewas akibat reruntuhan bangunan.

Di Makassar, Sulawesi Selatan, gempa berlangsung dua setengah menit (Bataviashe Courant, 28 April 1821), yang juga dirasakan di tempat-tempat lain di pantai selatan Sulawesi. Tsunami menghancurkan desa-desa di barat Bonthain sampai timur Bulukumba, termasuk desa Terang-Terang dan Nipa-Nipa.

Di Bulukumba gempa berlangsung sekitar 4-5 menit. Gempa mengakibatkan tsunami setinggi 25 meter menyapu pelabuhan Bulukumba dan merendam daratan sejauh 350-450 meter. Beberapa kendaraan terlempar dari pantai ke sawah, serta barak dan benteng hancur. Tsunami menewaskan sekitar 500 orang.

Berdasarkan data sejarah gempa dan tsunami (29 Desember 1820) dan gempa berpotensi tsunami (3 Maret 1927), para peneliti menghitung potensi kejadian gempa dan tinggi tsunami di Bulukumba. Hasil penelitiannya dimuat di Jurnal Geofisika, Vol. 16, No. 01 (2018) yang diterbitkan Himpunan Ahli Geofisika Indonesia.

Hasilnya, menurut mereka, berdasarkan data historis gempa bumi di Laut Flores yang berpotensi tsunami adalah gempa bumi magnitudo 7,5 (1820) dan 7,1 (1927). Berdasarkan perhitungan, mereka memprediksi pengulangan gempa bumi dengan magnitudo 7,5 dan 7,1 adalah 41 tahun (1861) dan 22 tahun (1949). Sedangkan tinggi tsunami dengan magnitudo 7,1 (17 meter) dan magnitudo 7,5 (25 meter).

Prediksi itu terjadi pada 1949, gempa bumi di Laut Flores berkekuatan magnitudo 6,4 (bukan 7,1). Sedangkan pada 1861 tidak terjadi gempa bumi.

Leave a Reply